sejarah desa

  • Dibaca: 1975 Pengunjung

SEJARAH DESA

 

          Nama suatu Desa atau wilayah umumya memiliki makna tertentu yang dimaksudkan untuk mengenang suatu kejadian atau hal-hal yang dianggap penting pada saat mana Desa atau wilayah berkaitan erat dengan sejarah Raja-raja dijaman dahulu,seperti yang dijumpai dari kisah nyata atau babad-babad dan prasasti.

          Kalau ditinjau dari asal usul Desa Kampung Toyapakeh,berasal dari dua suku kata yaitu “Toya” dan “Pakeh” yang artinya sebagai berikut : Toya yang artinya Air dan Pakeh artinya Asin, jadi dari uraian tersebut diatas Desa Kampung Toyapakeh adalahsuatu desa yang merupakan keseluruhan sumur yang digali oleh masyarakat Desa Kampung Toyapakeh airnya asin.

          Menurut sejarah ,pendirian Desa Kampung Toyapakeh oleh orang – orang pendatang dalam rangka silaturahmi semasa Kerajaan Klungkung,datang seorang laki-laki suku Jawa dari Tulungagung,Jawa Timuryang bernama RADEN JUM’AT .

Pulau Nusa Penida adalah pulau yang angker dimana tempat pembuangan bagi orang-orang yang bersalah kepada Raja Klungkung.Raden Jum’at adalah orang yang teguh imannya,percaya diri dan bijaksana,menelusuri pantai Nusa Penida dan akhirnya Raden jum’at tiba dan menetap di pantai PENIDApada tahun 1700,sekarang terletak di Desa Sakti, setelah itu terlihat olehnya sekilas hutan kecil yang lebat dengan pepohonan yang besar,suara-suara gemuruh terdengar olehnya yang tak lain adalah suara sang kera yang menandakan adanya  manusia yang datang (apa maksud dan tujuan sebenarnya).

          Setelah terdengar suara gemuruh itu,terlihatlah olehnya berlarian tunggang langgang sapi nan buas yang ada,sehingga sapi tersebut dinamakan oleh Raden Jum’at sapi WADAKAN.kemudian Raden Jum’at membuat jebakan untuk menangkap sapi itu,kemudian sapi yang didapat dari hasil jebakan itu disembelih menurut ajaran agama islam,serta diambil dagingnya dan kulitnya dijemur (didendeng) lalu dijual ke pulau Jawa Umumnya.

          Dengan adanya usaha-usaha Raden Jum’at, sehingga sapi-sapi yang ada yang ada di Penida lambat laun semakin punah hingga tersisa dua ekor,antara lain sapi yang bulunya putih (sepasang) lari ketakutan tidak ketahuan oleh Raden Jum’at kemana arah dan tujuan pelarian sapi itu, menurut tahayyul (kepercayaan) dari orang-orang yang ada di Pulau Nusa Penida ini adalah seolah-olah sapi tersebut sebagai sapi keramat yang artinya sapi tersebutlah yang membiakkan,sehingga sapi-sapi di Nusa Penida tidak habis-habisnya walaupun sudah bertahun-tahun,berbulan-bulan,berhari-hari dijual keluar PulauBali, oleh karena itu,kemudian terdengarlah oleh Raja Klungkung atas perbuatan Raden Jum’at,lalu dipanggillah Raden Jum’at untuk segera menghadap. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan kepadanya.Raden Jum’at tidak dapat menjawab,hanya membisu saja dan pertanyaan yang paling akhir disampaikan adalah,apakah kamu tidak tahu bahwa akulah yang berkuasa dan memiliki pulau Nusa Penida dan isinya sertamengapa kamu menanami pohon kelapa tanpa mendapat ijin dari aku? Kemudian Raden Jum’at minta ma’af atas kesalahan yang telah ia perbuatkarena ketidak tahuannya kemudian Raja klungkung memberikan fatwa(Ijin)pada Raden Jum’at, antara lain sebagai berikut :”Bila kamu memiliki keturunan anak laki-laki maka sebagai jerih payahmu akan aku berikan kamu tanah kebun kelapa itu setengah, bila kemudian kamu memiliki keturunan perempuan maka akan aku berikan kebun kelapa itu menurut kehendakku.”

          Raden Jum’at pun menerima apa yang diberikan oleh raja Klungkungdan pada akhirnya Raden Jum’at memiliki seorang anak laki-laki yang diberi nama  RADEN MUSTAFA dari keturunan Raden Mustafa kemudian mempunyai tiga orang anak perempuanyang bertempat tinggal di Desa Kampung Toyapakehatas ijin Raja klungkung, keturunan raden Mustafa diantaranya : DEN AYU RAKE,DEN AYU SRI,DEN AYU KAMI.

          Dari Raden Mustafa dan keturunannya meninggal di Desa Kampung Toyapakehsedangkan Raden Jum’at meninggal di Mekkah saat menunaikah ibadah Haji. Kita tinggalkan kisah dari keturunan Raden Jum’at dan sekarang kepada pendatang keduanya yang masih juga dalam kerajaan klungkung.pendatang tersebut bernama : “ HAJI ABDUL RAHIM “ yang berasal dari Kalimantan Selatan (Banjarmasin) dengan membawa sebotol intan permata asli, kehadiran Haji Abdul Rahim dilaporkan kepada Raja klungkung oleh maha patih, kemudian Abdul Rahim menghadap Raja dan diterima oleh Raja dengan senang hati dan Haji Abdul Rahim dipercayai untuk mengajar Bahasa Melayu(Indonesia) dan diberi pangkat Juru Tulis,yang selalu berhadapan dengan tamu dari Jawa dan belanda.setelah bertahun-tahun ia menjadi juru tulis dan mengabdi kepada Raja Klungkung, Haji Abdul Rahim menghadap Raja untuk mohon permisi pulang ke Kalimantan, namun Raja tidak mengijinkannya untuk pulang,maka untuk mengikat hatinya Raja Klungkung akan menganugerahkannya salah seorang dari dayang-dayang Puri untuk dijadikannya istriyang berasal dari Banjar Lebah, yaitu pada tahun 1901 (penulis Achmad Kabir jabatan Sekdes, disadur dari Monografi Desa yang diceritakan oleh Almarhun Abdul Kadir mantan Perbekel Desa Kampung Toyapakeh pada tahun 1983 dalam rangka lomba Desa).

Jadi keberadaan Suku Bangsa yang ada di Desa Kampung Toyapakeh mayoritas dari 4 (empat) suku adalah :

1.      Suku Jawa.

2.      Suku Banjarmasin

3.      Suku Bugis

4.      Suku Bali

Dulu wilayah kami di utara berada di seme prapat dengan tanda pohon celagi, timurnnya adalah tukad lanjang serta kuburan pertama kali ada di medelod

  • Dibaca: 1975 Pengunjung